Rupiah Terus Melemah, Bank Mulai Jual Dolar di Atas Rp17.700 per US$

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: IDNFinancial

Foto: IDNFinancial

Jakarta, Jemarionline.comNilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut membuat sejumlah bank besar di Indonesia mulai menjual dolar AS di atas level Rp17.700 per US$.

Pergerakan kurs itu menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah tekanan global yang belum mereda.

Konflik geopolitik, tingginya suku bunga Amerika Serikat, dan arus keluar dana asing masih membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data pasar spot global pada Senin siang, rupiah berada di kisaran Rp17.417 per dolar AS. Posisi tersebut lebih lemah dibanding penutupan pekan sebelumnya yang berada di sekitar Rp17.382 per dolar AS.

Kondisi itu langsung memengaruhi kurs jual dolar di sejumlah bank nasional. Beberapa bank mulai menaikkan harga jual dolar untuk layanan transfer maupun transaksi uang kertas.

HSBC Jual Dolar Tembus Rp17.700

HSBC Indonesia tercatat menjadi salah satu bank dengan kurs jual dolar tertinggi. Untuk layanan bank notes atau uang kertas, HSBC menetapkan kurs jual dolar sebesar Rp17.705 per US$.

Sementara kurs beli berada di level Rp17.105 per US$. Untuk layanan transfer, HSBC menetapkan kurs jual Rp17.630 per US$ dan kurs beli Rp17.180 per US$.

Selain HSBC, sejumlah bank besar lain juga menyesuaikan kurs dolar mereka.

PT Bank Central Asia Tbk atau BCA menetapkan kurs e-rate jual dolar di kisaran Rp17.435 per US$. Pada layanan TT Counter dan bank notes, kurs jual mencapai Rp17.570 per US$.

Baca Juga :  Gaji ke-13 ASN 2026 Segera Cair, Ini Jadwal dan Perkiraan Besarannya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memasang kurs jual e-rate sebesar Rp17.430 per US$. Sementara layanan TT Counter berada di level Rp17.510 per US$.

Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menetapkan kurs jual special rates sebesar Rp17.428 per US$. Untuk layanan TT Counter, kurs jual menyentuh Rp17.475 per US$.

Data tersebut menunjukkan spread kurs transaksi digital masih relatif dekat dengan harga pasar spot. Namun spread transaksi counter dan uang kertas mulai melebar seiring meningkatnya volatilitas pasar valuta asing.

Tekanan Global Masih Membebani Rupiah

Analis menilai pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah masih meningkatkan permintaan aset safe haven seperti dolar AS.

Selain itu, pasar juga memperkirakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat akan bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung menahan dana di aset berbasis dolar.

Tekanan itu membuat mata uang negara berkembang bergerak melemah, termasuk rupiah. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah bahkan sempat mencetak rekor terendah baru di atas Rp17.300 per dolar AS.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pelemahan rupiah bukan sekadar gejolak biasa.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap fondasi ekonomi mulai meningkat.

BI Perkuat Intervensi Pasar

Bank Indonesia (BI) terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah. Bank sentral melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi negara.

Baca Juga :  Rupiah Terperosok ke Level Rp 17.127, Efek Eskalasi Global dan Lemahnya Fundamental

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bank sentral siap memperkuat kebijakan moneter demi menjaga stabilitas rupiah.

“Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

BI juga memperketat aturan pembelian valuta asing. Bank sentral menurunkan batas maksimum pembelian dolar dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per pelaku per bulan.

Selain itu, BI meningkatkan batas transaksi lindung nilai seperti DNDF dan swap menjadi US$10 juta per transaksi.

Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasar valas di tengah tingginya tekanan global.

Rupiah Masih Berpotensi Fluktuatif

Pelaku pasar memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Sentimen global diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai tukar.

Jika konflik geopolitik terus memanas dan suku bunga AS bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.

Meski begitu, sejumlah analis menilai intervensi Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas pasar agar volatilitas tidak bergerak terlalu ekstrem.

Investor juga mulai menunggu perkembangan data ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.

Saat ini pelaku pasar tetap memantau kondisi rupiah dengan cermat. Pergerakan mata uang Garuda dinilai akan sangat memengaruhi pasar saham, obligasi, hingga aktivitas perdagangan nasional dalam jangka pendek.(man)

Berita Terkait

Tim Ekonomi Pancasila Ajukan RUUPN dalam Audiensi di KSP
Pemerintah Tunda Pajak Pedagang Online, Fokus Tunggu Ekonomi Menguat
Respons Bos Danantara Jelang Pengumuman MSCI, Pasar Saham RI Bersiap Hadapi Rebalancing Besar
BTN dan MKP Bangun Ekosistem Wisata Digital Terpadu di Bali
Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.395 per Dolar AS, Konflik Global Tekan Pasar
Pemutihan PBB Depok, Denda Dihapus 100 Persen
IHSG Ambruk 1,4% di Awal Pekan, Saham Perbankan Jadi Beban Utama Pasar
Prabowo Dorong Ekonomi Biru untuk Perkuat Sektor Kelautan Nasional
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:12 WIB

Tim Ekonomi Pancasila Ajukan RUUPN dalam Audiensi di KSP

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:00 WIB

Pemerintah Tunda Pajak Pedagang Online, Fokus Tunggu Ekonomi Menguat

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:00 WIB

Rupiah Terus Melemah, Bank Mulai Jual Dolar di Atas Rp17.700 per US$

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:00 WIB

Respons Bos Danantara Jelang Pengumuman MSCI, Pasar Saham RI Bersiap Hadapi Rebalancing Besar

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:00 WIB

BTN dan MKP Bangun Ekosistem Wisata Digital Terpadu di Bali

Berita Terbaru

Changan memperkenalkan Deepal S07 dan Lumin di Indomobile Expo 2026 dengan konsep mobil listrik urban modern, teknologi cerdas.( Poto : ANTARA ).

OTOMOTIF

Changan Dorong Mobil Listrik Urban di Indomobile Expo 2026

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:00 WIB

Tim Ekonom Pancasila dan akademisi menggelar audiensi di KSP bersama Dudung Abdurachman untuk membahas RUUPN dan penguatan ekonomi nasional.( Poto : Mediakarya ).

Ekonomi

Tim Ekonomi Pancasila Ajukan RUUPN dalam Audiensi di KSP

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:12 WIB