JAKARTA, Jemarionline.com — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Mata uang Garuda turun ke level Rp17.395 per dolar Amerika Serikat setelah pasar global menghadapi tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Data Bloomberg mencatat rupiah terdepresiasi sekitar 0,07 persen atau turun 13 poin pada perdagangan pagi. Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia.
Tekanan terhadap rupiah muncul setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Pelaku pasar global khawatir ketegangan di Timur Tengah akan mengganggu jalur perdagangan energi dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Konflik AS-Iran Jadi Sorotan Investor
Pelaku pasar global terus memantau perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian diplomatik antara kedua negara membuat investor memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut konflik Timur Tengah masih menjadi fokus utama pasar global dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan respons Iran terhadap proposal perdamaian tidak dapat diterima. Pernyataan tersebut memperbesar kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan itu juga memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Pasar khawatir gangguan distribusi minyak akan mendorong inflasi dunia kembali meningkat.
Kondisi tersebut akhirnya memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan The Fed Ikut Bebani Rupiah
Selain faktor geopolitik, pasar juga menyoroti arah kebijakan suku bunga The Fed.
Investor masih menunggu sinyal terbaru mengenai langkah bank sentral AS dalam menentukan arah suku bunga acuan beberapa bulan ke depan.
Perbedaan pandangan di internal The Fed membuat pasar bergerak lebih hati-hati. Sebagian pejabat The Fed mendukung penurunan suku bunga, sementara sebagian lain memilih mempertahankan kebijakan ketat untuk menekan inflasi.
Situasi tersebut memicu ketidakpastian di pasar keuangan global dan membuat arus modal asing cenderung bergerak menuju aset dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Tekanan dolar AS tidak hanya memengaruhi rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga bergerak melemah pada perdagangan pagi.
Yen Jepang, ringgit Malaysia, rupee India, dan baht Thailand sama-sama mengalami tekanan terhadap dolar AS. Sementara yuan China bergerak lebih stabil dibanding mata uang kawasan lainnya.
Kondisi itu menunjukkan investor global masih memilih dolar AS sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Pasar Domestik Ikut Waspada
Tekanan terhadap rupiah ikut memengaruhi pasar keuangan domestik. Investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sambil menunggu perkembangan situasi global.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia dan arus modal asing keluar dari pasar domestik.
Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan komitmennya menjaga kestabilan rupiah melalui intervensi pasar dan penguatan instrumen moneter.
Harga Impor Berpotensi Naik
Pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi harga barang impor di dalam negeri.
Produk elektronik, bahan baku industri, hingga komoditas yang menggunakan dolar AS kemungkinan mengalami kenaikan harga apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga dapat menambah tekanan terhadap biaya energi dan transportasi.
Karena itu, pelaku usaha kini memantau perkembangan kurs rupiah dan situasi global secara lebih ketat.
Investor Pilih Aset Aman
Ketidakpastian global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS dan emas.
Kondisi tersebut membuat pasar saham dan mata uang negara berkembang menghadapi tekanan cukup besar dalam beberapa pekan terakhir.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif selama konflik geopolitik dan arah kebijakan The Fed belum menunjukkan kepastian.
Pelaku pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat dan perkembangan terbaru hubungan AS-Iran sebagai penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.









