Jemarionline.com — Kasus penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) di Singapura meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pemerintah dan tenaga kesehatan karena jumlah pasien terus bertambah dan banyak penderita baru menyadari penyakitnya saat kondisi ginjal sudah parah.
Yayasan Ginjal Nasional Singapura memperkirakan lebih dari 200 ribu warga mengalami penyakit ginjal kronis dalam empat tahun terakhir. Banyak pasien tidak menyadari kondisi mereka karena CKD sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.
Kementerian Kesehatan Singapura mencatat prevalensi CKD pada warga usia 18 hingga 74 tahun naik signifikan dalam survei kesehatan nasional terbaru.
Data National Population Health Survey menunjukkan angka penyakit ginjal kronis meningkat dari 8,7 persen pada periode 2019-2020 menjadi sekitar 13,9 persen pada 2023-2024. Kenaikan tersebut mencapai hampir 60 persen hanya dalam beberapa tahun.
Lonjakan kasus membuat pemerintah Singapura memperkuat program deteksi dini dan pengawasan pasien berisiko tinggi.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Penyebab Utama
Dokter dan pakar kesehatan menyebut diabetes serta hipertensi sebagai penyebab terbesar meningkatnya kasus CKD di Singapura.
Kedua penyakit tersebut merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan penyaringan ginjal menurun secara perlahan.
Survei kesehatan nasional Singapura menemukan prevalensi CKD paling tinggi terjadi pada warga yang memiliki diabetes dan hipertensi sekaligus.
Angkanya bahkan mencapai 47,4 persen pada kelompok tersebut. Sementara warga yang hanya mengalami diabetes memiliki prevalensi sekitar 34,4 persen.
Selain diabetes dan tekanan darah tinggi, dokter juga menyoroti pola hidup tidak sehat sebagai faktor pemicu meningkatnya penyakit ginjal.
Banyak warga Singapura mengonsumsi makanan tinggi garam, gula, dan makanan olahan. Kebiasaan makan di luar rumah juga membuat asupan sodium meningkat tajam.
Pola hidup minim aktivitas fisik memperbesar risiko obesitas yang akhirnya memicu diabetes dan hipertensi.
Banyak Pasien Tidak Sadar Ginjalnya Bermasalah
Penyakit ginjal kronis sering disebut sebagai silent killer karena berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal.
Banyak pasien baru mengetahui kondisi mereka ketika fungsi ginjal sudah turun drastis dan mendekati gagal ginjal.
Dokter spesialis ginjal di Singapura menyebut sekitar lima dari sepuluh penderita tidak menyadari bahwa ginjal mereka bermasalah.
Kondisi tersebut membuat banyak pasien harus menjalani dialisis atau cuci darah seumur hidup ketika penyakit sudah memasuki stadium akhir.
“Pada tahap awal pasien merasa sehat dan normal meski fungsi ginjal menurun,” ujar Kepala Kedokteran Ginjal Rumah Sakit Tan Tock Seng, Yeo See Cheng.
Dokter juga mengingatkan bahwa kerusakan ginjal kronis tidak dapat dipulihkan sepenuhnya apabila sudah mencapai tahap berat.
Karena itu, deteksi dini menjadi langkah paling penting untuk mencegah gagal ginjal.
Pemerintah Singapura Perkuat Deteksi Dini
Pemerintah Singapura kini memperluas program penanganan penyakit ginjal kronis melalui pendekatan preventif.
Kementerian Kesehatan melibatkan sekitar 1.000 klinik Healthier SG untuk membantu memantau pasien CKD sejak dini.
Program tersebut melengkapi sistem penanganan CKD yang sebelumnya berjalan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan publik.
Singapura juga menjalankan program HALT-CKD sejak 2017 untuk memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis.
Melalui program itu, tenaga kesehatan memantau tekanan darah, kadar gula darah, pola hidup, hingga penggunaan obat pelindung ginjal pada pasien berisiko tinggi.
Data pemerintah menunjukkan lebih dari 110 ribu pasien CKD telah mengikuti program HALT-CKD hingga Maret 2024.
Kebutuhan Cuci Darah Diperkirakan Terus Naik
Lonjakan kasus CKD memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya kebutuhan layanan dialisis atau cuci darah di Singapura.
Pakar kesehatan memperkirakan jumlah pasien gagal ginjal akan terus bertambah apabila masyarakat tidak melakukan deteksi dini dan perubahan gaya hidup.
Saat fungsi ginjal turun drastis, pasien biasanya membutuhkan cuci darah rutin untuk mempertahankan kondisi tubuh.
Selain biaya tinggi, proses dialisis juga memengaruhi kualitas hidup pasien karena harus dilakukan secara berkala.
Karena itu, pemerintah Singapura mulai fokus pada langkah pencegahan untuk mengurangi lonjakan pasien gagal ginjal di masa depan.
Dokter Minta Warga Rutin Periksa Kesehatan
Tenaga kesehatan di Singapura mengimbau masyarakat rutin memeriksa kondisi ginjal, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi.
Pemeriksaan darah dan urine secara berkala membantu dokter mendeteksi gangguan ginjal lebih cepat sebelum berkembang menjadi gagal ginjal.
Dokter juga meminta masyarakat mengurangi konsumsi makanan tinggi garam, memperbanyak aktivitas fisik, menjaga berat badan, dan berhenti merokok.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu menurunkan risiko penyakit ginjal kronis.
Selain itu, tenaga kesehatan meminta masyarakat tidak mengabaikan tekanan darah tinggi dan diabetes karena kedua penyakit tersebut menjadi faktor utama kerusakan ginjal.
Jadi Peringatan bagi Negara Asia
Lonjakan kasus CKD di Singapura juga menjadi peringatan bagi negara-negara Asia lain, termasuk Indonesia.
Perubahan pola hidup, konsumsi makanan cepat saji, serta meningkatnya kasus diabetes membuat risiko penyakit ginjal ikut naik di kawasan Asia.
Para ahli kesehatan menilai deteksi dini dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk menekan lonjakan kasus gagal ginjal di masa depan.
Jika masyarakat tidak memperhatikan pola hidup sehat, jumlah penderita penyakit ginjal kronis diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.









