Jakarta, jemarionline.com – Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp17.377 per dolar Amerika Serikat pada Minggu (10/5/2026).
Kondisi ini menunjukkan tekanan pada mata uang Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, Mata Uang Kuwait (KWD) tetap menguat dan bertahan sebagai mata uang terkuat dunia dengan nilai sekitar 1 KWD setara USD3,25.
Perbedaan ini memperlihatkan kontras antara negara berkembang dan negara dengan ekonomi yang lebih stabil seperti Kuwait.
Negara tersebut membangun kekuatan mata uangnya dari kombinasi sumber daya alam, kebijakan moneter, dan pengelolaan keuangan yang terarah.
Kekuatan Ekonomi dari Minyak dan Kebijakan Moneter
Kuwait mengandalkan sektor minyak sebagai sumber utama pendapatan negara. Pemerintah memperoleh sekitar 90 persen pendapatan dari ekspor minyak.
Selain itu, negara ini memiliki sekitar 7 persen cadangan minyak dunia. Dengan kondisi tersebut, Kuwait mampu menjaga stabilitas ekonomi meskipun harga minyak global berfluktuasi.
Biaya produksi yang rendah juga membantu negara ini tetap meraih keuntungan besar.
Selanjutnya, Bank Sentral Kuwait menerapkan sistem keranjang mata uang sejak 2007. Sistem ini mengaitkan Dinar Kuwait dengan beberapa mata uang utama seperti dolar AS, euro, dan poundsterling.
Dengan demikian, nilai tukar menjadi lebih stabil dan tidak bergantung pada satu mata uang saja. Selain itu, kebijakan ini juga membantu meredam dampak gejolak ekonomi global.
Dana Investasi Negara dan Stabilitas Ekonomi
Selain kebijakan moneter, Kuwait mengandalkan Otoritas Investasi Kuwait (KIA) sebagai dana kekayaan negara.
Dana ini mengelola surplus pendapatan minyak dan menyalurkannya ke berbagai investasi global.
Hingga saat ini, nilai asetnya mencapai lebih dari satu triliun dolar AS. Oleh karena itu, kepercayaan internasional terhadap stabilitas ekonomi Kuwait dan Dinar Kuwait terus meningkat.
Di sisi lain, bank sentral juga mengontrol jumlah Dinar yang beredar di pasar. Pengendalian ini menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Akibatnya, nilai mata uang tetap stabil dan spekulasi dapat menurun.
Terakhir, Kuwait memiliki populasi yang relatif kecil dengan pendapatan minyak yang besar.
Kondisi ini menghasilkan pendapatan per kapita yang sangat tinggi. Dengan demikian, daya beli masyarakat kuat dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.(ar)









