JAKARTA, Jemarionline.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam beberapa pekan terakhir, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Kondisi tersebut memicu perhatian pelaku pasar dan pemerintah. Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah bukan berasal dari lemahnya fundamental ekonomi nasional. Tekanan justru datang dari faktor global yang masih bergejolak.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan ketegangan geopolitik global menjadi salah satu pemicu utama penguatan dolar AS. Konflik di Timur Tengah membuat investor global mencari aset aman, termasuk dolar AS.
“Pelemahan rupiah bukan karena fundamental ekonomi Indonesia melemah,” kata Perry dalam keterangannya.
Selain faktor geopolitik, tingginya suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve juga membuat arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Bank Indonesia Lakukan Intervensi
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan. Perry Warjiyo memastikan bank sentral akan memperkuat langkah stabilisasi baik di pasar domestik maupun offshore.
BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS guna mengurangi permintaan spekulatif di pasar valuta asing. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Sejumlah analis menilai langkah BI memang penting untuk menahan pelemahan rupiah. Namun tekanan yang terjadi saat ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal.
Peneliti senior CSIS, Deni Friawan, menilai BI berada dalam posisi sulit karena ruang kebijakan semakin terbatas. Menurut dia, intervensi terus-menerus juga dapat menguras cadangan devisa negara.
“BI sudah berusaha melakukan intervensi terhadap rupiah,” ujar Deni.
Faktor Fiskal Jadi Sorotan Pasar
Selain sentimen global, pelaku pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran dan besarnya subsidi energi ikut memberi tekanan terhadap rupiah.
Pengamat menilai pemerintah belum melakukan penyesuaian harga BBM subsidi meski harga minyak dunia terus naik. Situasi tersebut berpotensi memperbesar beban APBN.
Deni Friawan menyebut pasar mulai mencermati kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal di tengah tekanan ekonomi global.
Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, juga menilai kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik mulai menurun. Menurut dia, pelaku pasar membutuhkan kepastian terkait arah kebijakan fiskal pemerintah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai persoalan utama saat ini berada pada tingkat kepercayaan pasar terhadap manajemen fiskal pemerintah.
“Yang penting adalah trust terhadap manajemen fiskal,” kata Bhima.
Impor Energi Ikut Tekan Rupiah
Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS meningkat ketika harga minyak dunia naik.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, mengatakan kebutuhan impor energi menjadi salah satu sumber tekanan kronis terhadap rupiah.
Menurut Rizal, kombinasi sentimen global dan domestik membuat rupiah lebih rentan dibanding beberapa negara berkembang lain.
“Faktor fundamental belum cukup kuat menjadi penahan guncangan,” ujar Rizal.
Kenaikan harga minyak dunia juga memperbesar kebutuhan devisa untuk impor BBM. Akibatnya, permintaan dolar AS di pasar domestik ikut meningkat.
Investor Asing Banyak Keluar dari Emerging Market
Ketidakpastian global membuat investor asing mengurangi eksposur di negara berkembang atau emerging market. Indonesia ikut terkena dampak dari arus keluar modal tersebut.
Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena banyak investor memilih aset safe haven. Dolar AS menjadi salah satu instrumen yang paling diburu di tengah kondisi global yang belum stabil.
Selain itu, pembayaran utang luar negeri korporasi Indonesia pada April dan Mei 2026 ikut meningkatkan kebutuhan dolar AS di pasar domestik. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rupiah.
Pemerintah dan BI Diminta Perkuat Koordinasi
Pengamat ekonomi meminta pemerintah dan BI memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah moneter saja dinilai belum cukup.
Rizal Taufikurahman menilai pemerintah perlu mempercepat implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam agar suplai valuta asing meningkat.
Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga kredibilitas fiskal agar persepsi risiko terhadap Indonesia tidak semakin memburuk.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pasar saat ini lebih banyak menyoroti persoalan fiskal dibanding kebijakan moneter BI. Ia menyebut defisit anggaran dan utang jatuh tempo pemerintah ikut memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.
Rupiah Diperkirakan Masih Fluktuatif
Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Banyak faktor global yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Selama konflik geopolitik dan suku bunga AS masih tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan tetap berlanjut. Indonesia juga perlu menjaga kepercayaan investor agar arus modal asing tidak terus keluar.
Meski menghadapi tekanan berat, BI optimistis rupiah masih bisa stabil jika koordinasi kebijakan berjalan baik. Pemerintah dan otoritas keuangan juga terus memantau perkembangan pasar global secara ketat.
Saat ini pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan pemerintah dan BI untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.









