Pembelian Dolar AS Dibatasi US$25.000, Ini 7 Langkah BI Perkuat Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Foto: (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jemarionline.com – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas untuk menjaga stabilitas rupiah. Kini, BI berencana membatasi pembelian dolar Amerika Serikat (AS) hingga US$25.000 per bulan tanpa underlying yang jelas.

Kebijakan ini muncul di tengah tekanan global yang masih tinggi. Selain itu, BI ingin menekan transaksi spekulatif yang berpotensi melemahkan rupiah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar.

“Kami memperkuat kebijakan domestik, termasuk pembatasan pembelian dolar di atas US$25.000 yang harus disertai underlying,” ujar Perry.

Rupiah Tertekan, BI Bergerak Cepat

Belakangan ini, rupiah menghadapi tekanan yang cukup kuat terhadap dolar AS. Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia tetap stabil.

Namun demikian, beberapa faktor global tetap memengaruhi pergerakan rupiah, antara lain:

  • Suku bunga global yang tinggi
  • Arus modal keluar
  • Ketidakpastian ekonomi dunia

Di sisi lain, BI menilai rupiah masih undervalued. Artinya, nilai rupiah sebenarnya lebih kuat dari posisi saat ini.

Pengetatan Bertahap dari BI

Sebelumnya, BI sudah menurunkan batas pembelian dolar secara bertahap. Awalnya, batas berada di angka US$100.000. Kemudian, BI menurunkannya menjadi US$50.000.

Baca Juga :  Dollar Singapura Tembus Rp 14.000, Rupiah Cetak Rekor Terlemah

Kini, BI kembali memperketat aturan menjadi US$25.000 per bulan.

Dengan aturan ini, setiap transaksi di atas batas wajib memiliki dokumen pendukung. Misalnya, pelaku usaha harus menunjukkan kebutuhan impor atau investasi.

Karena itu, BI berharap pasar valas menjadi lebih sehat dan stabil.

7 Langkah Strategis BI Perkuat Rupiah

Selain pembatasan dolar, BI juga menjalankan berbagai strategi lain. Berikut tujuh langkah utama:

1. Intervensi Pasar Valas

BI aktif masuk ke pasar untuk menjaga keseimbangan nilai tukar. Dengan cara ini, BI bisa meredam gejolak yang berlebihan.

2. Penguatan Kebijakan Moneter

Selanjutnya, BI mengelola suku bunga dan likuiditas. Tujuannya jelas, yaitu menarik aliran modal masuk.

3. Pengetatan Transaksi Valas

BI memperketat pembelian dolar tanpa underlying. Dengan demikian, spekulasi dapat ditekan.

4. Optimalisasi DNDF

Selain itu, BI memaksimalkan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas kurs.

5. Menarik Investor

BI juga meningkatkan daya tarik investasi. Oleh karena itu, investor diharapkan tetap percaya pada pasar Indonesia.

6. Koordinasi dengan Pemerintah

Di sisi lain, BI memperkuat kerja sama dengan pemerintah. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.

Baca Juga :  BI Menggunakan Cadangan Devisa untuk Menahan Tekanan Rupiah

7. Pengendalian Devisa

Terakhir, BI mengawasi arus devisa lebih ketat. Dengan begitu, capital outflow dapat dikendalikan.

Dampak ke Masyarakat dan Pelaku Usaha

Kebijakan ini tentu membawa dampak langsung.

Pertama, masyarakat tetap bisa membeli dolar. Namun, mereka harus menyertakan dokumen jika jumlahnya besar.

Kedua, importir tidak akan terganggu. Mereka tetap dapat bertransaksi selama memiliki kebutuhan yang jelas.

Ketiga, investor justru diuntungkan. Stabilitas rupiah akan meningkatkan kepercayaan pasar.

Efektivitas Kebijakan Ini

Sebenarnya, BI pernah menerapkan kebijakan serupa. Saat itu, pembatasan berhasil menekan transaksi spekulatif.

Oleh sebab itu, BI cukup optimistis kebijakan ini akan efektif kembali.

Tantangan yang Masih Ada

Meski demikian, beberapa tantangan tetap muncul.

Misalnya, ketergantungan pada dolar AS masih tinggi. Selain itu, kondisi global juga sulit diprediksi.

Namun demikian, BI yakin strategi ini mampu menjaga stabilitas rupiah.

Analisis: Penguatan Rupiah Butuh Waktu

Pengamat menilai kebijakan ini akan berdampak positif. Akan tetapi, penguatan rupiah tidak terjadi secara instan.

Sebaliknya, rupiah akan menguat secara bertahap. Hal ini sangat bergantung pada kondisi global dan arus investasi.

Berita Terkait

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi
Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya
Harga Pertamax Bakal Turun? Ini Sinyal dari Menkeu Purbaya
Harga BBM Jambi 2 Juli 2026 Tetap, Ini Daftar Tarif Terbaru di SPBU
Harga Biosolar B50 Mulai Dijual, Segini Tarif Terbarunya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:00 WIB

PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:00 WIB

Prabowo Dijadwalkan Resmikan Biodiesel B50 pada 9 Juli, Pemerintah Percepat Transisi Energi

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:00 WIB

Tarif Listrik Juli-September 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Penjelasannya

Berita Terbaru

Ilustrasi AI.(Pexels/cottonbro studio)

Teknologi

Perusahaan Kembali Rekrut Karyawan Setelah Uji Coba AI

Selasa, 7 Jul 2026 - 11:00 WIB