Ini Sebab Ilmiah Kenapa Ikan Sapu-sapu Invasif dan Layak Dimusnahkan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikan sapu-sapu di sungai, hama invasif pengancam ekosistem (Foto: Juan Carlos Caicedo Hernández/iNaturalist/CC BY 4.0)

Ikan sapu-sapu di sungai, hama invasif pengancam ekosistem (Foto: Juan Carlos Caicedo Hernández/iNaturalist/CC BY 4.0)

Jemarionline.com — Fenomena ikan sapu-sapu makin meresahkan di berbagai perairan Indonesia. Populasinya naik cepat dan mulai mendominasi sungai hingga waduk. Para peneliti pun menyoroti dampaknya yang serius terhadap ekosistem.

Banyak orang masih menganggap ikan ini sebagai “pembersih alami”. Anggapan itu kurang tepat. Dalam praktiknya, ikan sapu-sapu justru memicu kerusakan lingkungan.

Populasi Meledak, Ikan Lokal Langsung Terdesak

Ikan sapu-sapu berkembang sangat cepat. Dalam waktu singkat, mereka bisa memenuhi satu wilayah perairan.

Saat jumlahnya melonjak, ikan lokal langsung kalah bersaing. Spesies seperti nila, tawes, dan gabus makin sulit menemukan makanan. Ruang hidup mereka juga menyempit.

Kondisi ini mendorong penurunan populasi ikan lokal. Jika situasi terus berlanjut, beberapa spesies bisa hilang dari habitatnya.

Adaptasi Kuat, Hidup di Air Kotor Sekalipun

Ikan sapu-sapu punya kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka tetap hidup di air kotor yang biasanya mematikan bagi ikan lain.

Saat kualitas air menurun, ikan lokal mati lebih dulu. Sapu-sapu justru bertahan dan terus berkembang. Situasi ini membuat mereka cepat menguasai perairan.

Selain itu, ikan ini berkembang biak dengan sangat cepat. Seekor induk bisa menghasilkan banyak telur dalam satu periode. Proses ini berulang beberapa kali dalam setahun.

Baca Juga :  Bupati Monadi dan PT KMH Tebar Ikan Endemik di Danau Kerinci untuk Jaga Ekosistem

Tidak Punya Musuh Alami

Masalah lain muncul karena tidak ada predator alami yang efektif di Indonesia. Hampir tidak ada hewan yang memangsa ikan sapu-sapu dalam jumlah besar.

Akibatnya, populasi mereka tumbuh tanpa kontrol. Dalam kondisi normal, predator membantu menjaga keseimbangan. Namun, pada kasus ini, peran itu tidak berjalan.

Tanpa pengendali alami, ikan sapu-sapu terus mendominasi.

Merusak Rantai Makanan

Ikan sapu-sapu tidak hanya bersaing dengan ikan lain. Mereka juga mengganggu rantai makanan.

Mereka memakan alga dan organisme kecil yang penting bagi ekosistem. Padahal, alga berfungsi sebagai sumber makanan dan tempat hidup bagi banyak makhluk air.

Saat alga berkurang, organisme kecil ikut terdampak. Dampaknya merambat ke ikan yang lebih besar. Rantai makanan pun terganggu.

Berpotensi Membawa Penyakit

Sebagai spesies pendatang, ikan sapu-sapu bisa membawa penyakit baru. Mikroorganisme yang mereka bawa dapat menyerang ikan lokal.

Ikan lokal sering tidak punya daya tahan terhadap patogen tersebut. Akibatnya, penyakit lebih mudah menyebar.

Baca Juga :  Curah Hujan Tinggi Awal 2026, Sejumlah Daerah Tingkatkan Kewaspadaan Banjir

Kondisi ini memperparah tekanan terhadap populasi ikan asli.

Risiko bagi Kesehatan Manusia

Ikan sapu-sapu sering hidup di perairan tercemar. Mereka menyerap logam berat dari lingkungan.

Zat berbahaya ini bisa menumpuk di tubuh ikan. Jika manusia mengonsumsinya, risiko kesehatan bisa muncul.

Karena itu, banyak pihak tidak menyarankan konsumsi ikan ini. Beberapa daerah bahkan langsung memusnahkan hasil tangkapan.

Pengendalian Jadi Solusi Paling Masuk Akal

Melihat dampaknya, pemerintah mulai mengambil langkah tegas. Petugas menangkap ikan sapu-sapu dalam jumlah besar untuk menekan populasi.

Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa pengendalian, jumlah ikan ini akan terus meningkat.

Upaya ini juga membantu memberi ruang bagi ikan lokal untuk pulih.

Kesimpulan: Ancaman Nyata bagi Perairan

Ikan sapu-sapu bukan sekadar ikan biasa. Mereka tumbuh cepat, tahan kondisi ekstrem, dan sulit dikendalikan.

Kombinasi ini menjadikan mereka ancaman serius. Mereka:

  • Menggeser ikan lokal
  • Mengganggu rantai makanan
  • Menurunkan kualitas ekosistem

Karena itu, pengendalian bahkan pemusnahan menjadi langkah yang realistis.

Berita Terkait

Viral Buang Sampah Sembarangan, 3 Pria di Pandeglang Terancam Sanksi Berat
Kebakaran Pabrik Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Jaletreng, Ikan Mati
Kemenhut Panggil Direksi PT RAPP Terkait Kematian Gajah Sumatera di Pelalawan
Kampanye Penanaman Pohon 10 Ribu Bibit di Kota Bandung Capai Target
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 16:00 WIB

Ini Sebab Ilmiah Kenapa Ikan Sapu-sapu Invasif dan Layak Dimusnahkan

Minggu, 5 April 2026 - 23:00 WIB

Viral Buang Sampah Sembarangan, 3 Pria di Pandeglang Terancam Sanksi Berat

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:30 WIB

Kebakaran Pabrik Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Jaletreng, Ikan Mati

Minggu, 8 Februari 2026 - 10:50 WIB

Kemenhut Panggil Direksi PT RAPP Terkait Kematian Gajah Sumatera di Pelalawan

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:45 WIB

Kampanye Penanaman Pohon 10 Ribu Bibit di Kota Bandung Capai Target

Berita Terbaru

KPK memeriksa 55 saksi outsourcing dalam kasus dugaan korupsi pengadaan di Pemkab Pekalongan yang menyeret Bupati nonaktif Fadia Arafiq.( Poto : dok.detikcom)

Hukum

KPK Panggil 55 Saksi Outsourcing dalam Kasus Fadia Arafiq

Kamis, 23 Apr 2026 - 21:00 WIB

SPPG Polri Pejaten uji coba sistem MBG prasmanan di SMA Kemala Bhayangkari 1 Jakarta. Program ini melatih disiplin siswa sekaligus meningkatkan layanan gizi.( Poto : detiknews).

Nasional

SPPG Polri Uji Coba MBG Prasmanan di SMA Pejaten

Kamis, 23 Apr 2026 - 20:00 WIB