Jemarionline.com, Jakarta – DeepMind, laboratorium kecerdasan buatan asal Inggris, nyaris dibeli oleh Mark Zuckerberg, CEO Meta, sebelum akhirnya memilih bergabung dengan Google.
Kisah ini terjadi sekitar tahun 2014. Meta menawarkan paket akuisisi besar untuk mengintegrasikan tim riset DeepMind ke dalam perusahaannya. Namun, keputusan itu gagal. Pertemuan pribadi antara CEO DeepMind, Demis Hassabis, dan Zuckerberg ternyata menjadi penentu.
Menurut sumber, Hassabis lebih mementingkan kesesuaian visi dan budaya kerja dibandingkan uang. Dalam pertemuan makan malam tersebut, terlihat jelas perbedaan pandangan tentang arah riset AI dan etika pengembangannya. Hassabis merasa Google lebih mendukung penelitian AI secara independen dan jangka panjang.
Keputusan DeepMind bergabung dengan Google terbukti tepat. Laboratorium ini kini menjadi salah satu pusat riset AI paling berpengaruh di dunia, mengembangkan teknologi mulai dari permainan Go hingga aplikasi medis dan sistem AI kompleks.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam dunia startup teknologi, visinya lebih penting daripada uang semata. Langkah Hassabis juga menjadi catatan penting dalam sejarah persaingan perusahaan besar di bidang AI global, yang terus berkembang hingga sekarang.









