Jakarta, jemarionline.com – Faktor risiko pemicu utama serangan jantung di Indonesia mengalami perubahan mendasar dalam beberapa tahun terakhir. Kebiasaan merokok yang selama ini menduduki posisi teratas kini resmi tergeser oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, membeberkan fakta tersebut. Ia menyebutkan bahwa satu dari tiga orang di Indonesia saat ini hidup dengan kondisi hipertensi.
Tingginya angka penderita tekanan darah tinggi ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut memicu lonjakan kasus penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah secara signifikan di berbagai daerah.
dr Ade menjelaskan perubahan pola pemicu utama serangan jantung ini pada Konferensi Pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). Ia menegaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan asin menjadi pendorong utama kenaikan kasus tersebut.
Masyarakat Indonesia cenderung menyukai makanan dengan kadar garam tinggi dalam menu harian mereka. Padahal, batas aman asupan garam harian untuk tubuh manusia tergolong sangat terbatas.
Dokter Spesialis Kardiovaskular tersebut mengingatkan bahwa jatah konsumsi garam harian idealnya hanya satu sendok teh. Penderita hipertensi biasanya akan merasa kesulitan menikmati makanan ketika harus membatasi asupan garam secara ketat.
Pola Makan Tinggi Garam Memicu Lonjakan Kasus Hipertensi
Dampak buruk hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok kini tidak lagi hanya mengintai kelompok lansia. Berbagai faktor risiko tersebut mulai marak menyerang masyarakat yang berada pada kelompok usia produktif.
dr Ade menuturkan bahwa kasus serangan jantung saat ini paling banyak ditemukan pada warga berusia 20 hingga 45 tahun. Pasien dari kelompok usia muda tersebut didominasi oleh kaum laki-laki.
Secara nasional maupun global, penyakit kardiovaskular masih memegang predikat sebagai penyebab kematian nomor satu. Data medis menunjukkan satu dari tiga orang di dunia dan Indonesia meninggal dunia akibat gangguan jantung.
PERKI menekankan pentingnya langkah pencegahan masif untuk menekan angka kematian akibat serangan jantung. Masyarakat perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebelum gejala penyakit muncul.
Deteksi Dini Langkah Krusial Mencegah Penyakit Jantung
Pemeriksaan rutin yang wajib dilakukan meliputi pemantauan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Langkah sederhana ini membantu mendeteksi potensi gangguan pembuluh darah sejak dini.
dr Ade menegaskan bahwa upaya pencegahan jauh lebih efektif daripada mengobati penyakit yang sudah parah. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus kardiovaskular.
Penerapan gaya hidup sehat dan pembatasan asupan garam harian harus menjadi perhatian bersama. Langkah ini efektif menurunkan risiko hipertensi sekaligus menjaga kesehatan jantung jangka panjang.
Masyarakat di imbau untuk lebih bijak dalam memilih menu makanan sehari-hari. Pengurangan konsumsi garam secara konsisten dapat memberikan dampak positif yang besar bagi kesehatan organ jantung.(ar)









