Jakarta, jemarionline.com – Penyebab kejatuhan Nokia kembali menjadi bahan diskusi hangat publik. Raksasa telepon seluler asal Finlandia ini sempat menguasai pasar global sebelum mengalami penurunan tajam.
Sejarah mencatat Nokia memperkenalkan ponsel pertamanya pada tahun 1987. Perusahaan ini berhasil menyalip Motorola dan merebut posisi puncak pasar global pada 1998.
Keberhasilan tersebut berlanjut hingga tahun 2005 saat Nokia menjual perangkat yang ke satu miliar. Puncak kejayaan perusahaan terjadi pada 2007 dengan penguasaan pangsa pasar mencapai 40 persen.
Nilai kapitalisasi pasar Nokia kala itu bahkan menembus angka USD 150 miliar. Namun, kemunculan iPhone dan ekosistem Android pada dekade 2010-an mulai menggoyahkan dominasi sang raja ponsel.
Kegagalan Inovasi Software Memicu Penurunan Pangsa Pasar Nokia
Penyebab utama kejatuhan Nokia berakar pada kelalaian perusahaan merespons transformasi teknologi perangkat lunak. Insinyur perangkat keras menguasai dominasi internal perusahaan dan meminggirkan peran ahli perangkat lunak.
Kondisi tersebut membuat Nokia meremehkan pentingnya pengembangan sistem operasi dan aplikasi seluler. Sebaliknya, Apple dan produsen Android menempatkan perangkat keras dan perangkat lunak pada tingkat kepentingan serupa.
Langkah Apple menghadirkan teknologi layar sentuh responsif dan toko aplikasi praktis mengubah perilaku konsumen secara mendasar. Nokia justru terlambat menyadari perubahan preferensi pengguna yang menginginkan kemudahan navigasi perangkat lunak.
Manajemen Nokia memelihara rasa percaya diri berlebihan terhadap reputasi merek yang telah terbangun puluhan tahun. Para eksekutif yakin keunggulan desain fisik mampu mempertahankan loyalitas konsumen meski terlambat masuk ke segmen smartphone.
Keputusan Kritis Penjualan Divisi Seluler Ke Perusahaan Microsoft
Penurunan pangsa pasar Nokia berlangsung secara bertahap sehingga manajemen kurang merasakan urgensi perubahan. Kelalaian mengantisipasi tren pasar membuat perusahaan kehilangan daya saing secara konsisten setiap tahun.
Krisis beruntun memaksa Nokia mengambil langkah dramatis demi menyelamatkan aset bisnis. Perusahaan akhirnya menyetujui kesepakatan akuisisi divisi seluler oleh Microsoft pada tahun 2014.
Nilai transaksi penjualan bisnis ponsel tersebut mencapai angka sekitar USD 7 miliar. Angka akuisisi ini terbilang sangat murah jika membandingkannya dengan nilai puncak kapitalisasi pasar Nokia.
HMD Global kini memegang lisensi pemasaran untuk mengedarkan kembali ponsel bermerek Nokia di pasar internasional. Namun, produk besutan lisensi baru ini belum mampu mengulang kejayaan masa lalu.
Kisah perjalanan Nokia memberikan pelajaran krusial bagi seluruh pelaku industri teknologi modern. Kegagalan beradaptasi dengan inovasi software terbukti mampu menjatuhkan pemimpin pasar dalam waktu relatif singkat.(ar)









