Jakarta, jemarionline.com – Tim SAR gabungan resmi memperpanjang masa pencarian rombongan jurnalis hilang Selat Sunda selama tiga hari ke depan. Keputusan tersebut diambil setelah tim penyisir belum menemukan keberadaan delapan penumpang hingga hari ketujuh operasi.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers di Posko SAR pada Senin (14/9/2026). Pihaknya menyimpulkan hasil operasi pencarian hingga hari ketujuh masih menunjukkan hasil nihil.
Tim gabungan menyepakati perpanjangan operasi setelah menggelar rapat koordinasi bersama jajaran pemerintah daerah. Keputusan ini memayungi seluruh personel yang terus bergerak melakukan penyisiran di perairan perbatasan tersebut.
Gubernur Banten Andra Soni sebelumnya meminta Basarnas memperpanjang masa pencarian rombongan yang hilang sejak pekan lalu. Ia menyuarakan permintaan tersebut kepada Polda Banten, Lanal Banten, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.
Andra menegaskan langkah ini sangat penting karena delapan orang dalam speedboat Arupadhatu 1 belum ditemukan. Rombongan tersebut terdiri dari lima orang wartawan dan tiga awak kapal yang sedang bertugas.
Pemerintah Daerah Banten merespons secara langsung harapan serta aspirasi dari pihak keluarga para korban. Petugas posko terus menjalin komunikasi intensif sambil memberikan pendampingan emosional kepada keluarga penumpang.
Andra menyebutkan bahwa keluarga korban sangat berharap tim penyisir terus bekerja di area pencarian. Pihaknya berkomitmen mengerahkan bantuan maksimal demi mengupayakan keselamatan seluruh anggota rombongan.
Tim Gabungan Memperpanjang Operasi Pencarian Korban Hilang
Tim SAR gabungan langsung merancang ulang peta lokasi penyisiran untuk tiga hari masa perpanjangan. Para petugas akan menyisir ulang wilayah perairan yang pernah mereka lintasi sejak hari pertama pencarian.
Evaluasi menyeluruh ini melibatkan analisis pergerakan arus air serta kondisi cuaca terbaru. Petugas menggabungkan data perkiraan cuaca dari BMKG dan pemetaan kondisi geologis dari PVMBG.
Integrasi data BMKG dan PVMBG membantu petugas memperhitungkan arah pergeseran objek di permukaan laut. Tim lapangan mengandalkan kalkulasi teknis ini guna menentukan koordinat sasaran pencarian yang lebih presisi.
Metode penyisiran tetap mengombinasikan armada kapal laut dan pemantauan udara secara berkala. Namun, skenario pergerakan armada di lapangan menyesuaikan situasi perubahan cuaca ekstrem yang dinamis.
Kendala Kabut Tebal Dan Jarak Pandang Terbatas
Kondisi cuaca di Perairan Selat Sunda memberi tantangan besar bagi para personel tim pencari. Kabut tebal kerap menyelimuti jarak pandang petugas sejak hari kelima hingga hari ketujuh pencarian.
Gangguan kabut tebal membatasi pandangan mata secara drastis saat armada udara hendak melintas. Kondisi alam berbahaya ini memaksa petugas menunda penerbangan beberapa armada pendukung pencarian.
Pada hari keenam pencarian, helikopter SAR yang bersiap terbang tidak dapat lepas landas. Petugas terpaksa membatalkan pantauan udara akibat jarak pandang yang sangat membahayakan keselamatan penerbangan.
Basarnas Lampung turut menggeser fokus operasi penyisiran menuju kawasan perairan Teluk Semangka. Langkah pemindahan area ini menjadi bagian dari penyesuaian strategi demi menemukan seluruh korban.
Tim penyisir terus menyisir area laut dengan cermat sembari menunggu cuaca kembali membaik. Seluruh personel gabungan tetap memfokuskan pencarian pada koordinat potensial berdasarkan data pergeseran terbaru.(ar)









