Jakarta, jemarionline.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini mengalami tekanan signifikan hingga melemah ke level 6.100-an. Penurunan indeks saham domestik ini terjadi seiring langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kebijakan anyar terkait batas harga saham minimum.
Data perdagangan RTI Business mencatat IHSG terkoreksi sebesar 0,97 persen menuju level 6.181,43 hingga penutupan sesi pertama. Indeks bergerak di zona merah sejak pembukaan pasar pagi dan menyentuh posisi terendah pada level 6.174,30.
Aktivitas transaksi pasar pada paruh pertama hari ini mencatatkan volume perdagangan yang mencapai 23,38 miliar saham. Sementara itu, total nilai transaksi pasar saham secara keseluruhan berhasil membukukan angka sebesar Rp 6,41 triliun.
Para pelaku pasar melakukan transaksi perdagangan saham sebanyak 1.020.488 kali hingga jeda siang hari. Pergerakan harga memperlihatkan sebanyak 496 saham mengalami penurunan, 193 saham menguat, dan 102 saham bergerak stagnan.
Penurunan IHSG turut menyeret indeks saham unggulan LQ45 yang merosot sebesar 0,86 persen ke posisi 615,79. Koreksi massal ini mewarnai seluruh lini perdagangan pasar modal Indonesia pada awal pekan.
Otoritas bursa resmi memberlakukan harga saham terendah hingga Rp 1 mulai perdagangan hari ini. Kebijakan anyar ini menghapus ketentuan lama mengenai harga minimum saham yang sebelumnya tertahan di posisi Rp 50.
Langkah strategis tersebut berjalan beriringan dengan pembaruan aturan teknis pada sistem Papan Pemantauan Khusus. Perubahan regulasi ini bertujuan untuk memberikan ruang transaksi yang lebih fleksibel bagi para investor pasar modal.
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai implementasi aturan baru ini langsung memicu pergerakan IHSG. Pasar merespons penyesuaian aturan tersebut dengan peningkatan dinamika harga pada saham-saham berharga murah.
Analis menjelaskan bahwa penghapusan batas harga minimum dapat memperluas ruang perdagangan saham secara optimal. Kebijakan ini juga mampu meningkatkan efisiensi pembentukan harga pasar bagi saham yang sebelumnya lama membeku.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan investor mengenai potensi kenaikan volatilitas yang cukup tinggi. Pergerakan saham dengan nilai rendah diprediksi akan mengalami lonjakan fluktuasi harga dalam rentang waktu singkat.
Sentimen Suku Bunga Dan Geopolitik Bayangi Pasar
Faktor eksternal turut membayangi arah pergerakan indeks saham domestik pada perdagangan hari ini. Pergerakan suku bunga global, pergerakan imbal hasil obligasi AS, dan dinamika nilai tukar rupiah menjadi perhatian investor.
Riset Mirae Asset Sekuritas mencatat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melonjak hingga menyentuh level 5,167 persen. Lonjakan yield obligasi tersebut langsung memicu kecemasan pelaku pasar global terhadap potensi risiko kenaikan inflasi.
Kondisi tersebut memperbesar ekspektasi pasar terkait rencana Bank Sentral AS naikkan suku bunga acuan. The Fed diproyeksikan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober mendatang.
Di sisi lain, dinamika diplomasi AS dan Iran di sidang umum PBB membawa angin segar bagi pasar komoditas. Pembahasan gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz menekan harga minyak Brent turun 2,02 persen ke posisi US$ 97,44 per barel.
Kesepakatan perpanjangan gencatan perang dagang AS-China selama dua bulan juga memberi dorongan tambahan bagi pasar. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menegaskan faktor-faktor tersebut bakal terus memengaruhi IHSG.(ar)









