Bahaya Air Mineral untuk Radiator Mobil: Risiko Korosi, Sumbatan, hingga Overheat Mesin

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang teknisi sedang memeriksa radiator mobil ( Poto : kompas.com )

Seorang teknisi sedang memeriksa radiator mobil ( Poto : kompas.com )

Jakarta, jemarionline.com – Pengendara masih sering memakai air mineral untuk radiator mobil saat kondisi darurat di jalan. Praktik ini justru berisiko merusak sistem pendingin dan memicu overheat, terutama saat mobil menghadapi kemacetan panjang seperti di Jakarta.

Air Mineral Masih Jadi Pilihan Darurat Pengendara

Kemacetan di Jakarta dan wilayah sekitarnya membuat mobil sering bergerak lambat dalam kondisi stop and go. Situasi ini meningkatkan suhu kerja mesin karena aliran udara tidak optimal.

Saat coolant radiator habis di perjalanan, sebagian pengendara memilih air mineral sebagai solusi cepat. Mereka mengisi radiator tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang pada sistem pendingin.

Direktur PT Autokooling Jaya Nusantara (AJN) sekaligus distributor Koyorad di Indonesia, Fendy, menegaskan bahwa air mineral tidak layak masuk ke sistem radiator.

Ia menilai banyak pengendara masih salah memahami fungsi air sebagai pendingin mesin.

Kandungan Mineral Picu Kerusakan Sistem Pendingin

Fendy menjelaskan bahwa air mineral mengandung zat yang tidak cocok untuk sistem pendingin mobil. Zat mineral tersebut memicu reaksi yang merusak komponen logam di dalam mesin.

Ia menyebut mineral dalam air memicu proses korosi secara perlahan pada blok mesin dan jalur radiator.

“Air mineral mengandung zat mineral yang dapat menimbulkan korosi pada blok mesin. Korosi tersebut lama-kelamaan bisa menyumbat tube atau pipa kapiler radiator,” kata Fendy Jumat (29/5/2026) dikutip dari Kompas.com.

Endapan dari mineral tersebut kemudian menumpuk di jalur kecil radiator. Kondisi ini membuat aliran cairan pendingin tidak berjalan lancar.

Radiator Tidak Bekerja Optimal di Tengah Kemacetan

Radiator bekerja dengan cara mengalirkan cairan pendingin melalui pipa kecil untuk menyerap panas mesin. Sistem ini membutuhkan cairan yang bersih agar proses pelepasan panas berjalan maksimal.

Baca Juga :  9 Rekomendasi Mobil Pertama untuk Pemula 2026: Pilihan Terbaik, Irit, dan Mudah Dikendarai

Kemacetan panjang membuat mesin terus menyala tanpa aliran udara yang cukup. Dalam kondisi ini, sistem pendingin menjadi satu-satunya penopang stabilitas suhu mesin.

Ketika pengendara mengisi radiator dengan air mineral, risiko penyumbatan meningkat. Aliran pendingin yang terhambat membuat suhu mesin naik lebih cepat dari kondisi normal.

Akibatnya, mesin kehilangan kemampuan untuk menjaga suhu kerja yang stabil.

Risiko Overheat Meningkat Saat Mobil Terjebak Macet

Mobil yang sering terjebak macet menghadapi tekanan suhu lebih tinggi dibanding kondisi jalan lancar. Mesin bekerja lebih keras meskipun kendaraan tidak bergerak cepat.

Air mineral memperparah kondisi tersebut karena meninggalkan kerak di dalam sistem pendingin. Kerak ini menghambat sirkulasi cairan dan menurunkan efisiensi radiator.

Dalam situasi tertentu, suhu mesin dapat melonjak drastis dan memicu overheat. Kondisi ini berpotensi merusak komponen penting seperti water pump dan blok mesin.

Jika tidak segera ditangani, kerusakan bisa meluas dan meningkatkan biaya perbaikan.

Air Mineral Bukan Solusi Aman, Bahkan untuk Darurat

Fendy menegaskan bahwa pengendara tidak seharusnya menjadikan air mineral sebagai solusi, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

Ia menyarankan penggunaan air destilasi sebagai pilihan yang lebih aman ketika coolant tidak tersedia.

Air destilasi tidak mengandung mineral sehingga tidak memicu korosi pada sistem pendingin.

“Kalau darurat bisa menggunakan air destilasi karena bebas mineral. Tetapi yang paling baik tetap coolant,” ujar Fendy.

Baca Juga :  VinFast VF 8 Generasi Baru Tampil Lebih Modern, Siap Bidik Konsumen SUV Listrik Masa Kini

Namun ia tetap menekankan bahwa penggunaan air selain coolant hanya bersifat sementara.

Coolant Lindungi Mesin dari Karat dan Panas Berlebih

Coolant modern tidak hanya berfungsi menurunkan suhu mesin. Cairan ini juga melindungi sistem pendingin dari karat dan kerak.

Produsen coolant merancang cairan ini agar mampu bekerja dalam suhu tinggi dan tekanan ekstrem. Karena itu, coolant jauh lebih stabil dibanding air biasa.

Fendy menjelaskan bahwa coolant dengan kandungan antikarat membantu menjaga kebersihan jalur radiator dalam jangka panjang.

Dengan penggunaan yang tepat, sistem pendingin dapat bekerja lebih efisien dan tahan lama.

Pentingnya Tindakan Cepat Setelah Kondisi Darurat

Jika pengendara terpaksa menggunakan air biasa di perjalanan, mereka harus segera menggantinya dengan coolant.

Fendy menyarankan pemilik kendaraan langsung menguras sistem pendingin setelah sampai di tujuan atau bengkel terdekat.

Tindakan ini mencegah endapan mineral menempel lebih lama di dalam radiator.

Semakin cepat penggantian dilakukan, semakin kecil risiko kerusakan pada sistem pendingin.

Dampak Jangka Panjang Jika Diabaikan

Penggunaan air mineral secara berulang dapat mempercepat kerusakan sistem pendingin. Endapan yang terus terbentuk akan mempersempit jalur aliran cairan.

Kondisi ini membuat mesin bekerja lebih panas dari seharusnya. Dalam jangka panjang, performa kendaraan menurun dan konsumsi bahan bakar bisa meningkat.

Selain itu, risiko kerusakan komponen utama mesin juga ikut naik.

Pemilik kendaraan akhirnya harus mengeluarkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar dibanding perawatan rutin.(ar)

Berita Terkait

Pengguna Mobil Listrik Perlu Paham, Isi Daya di SPKLU Tak Harus 100 Persen
Toyota Masih Raja Otomotif Dunia, Tapi Mulai Tertekan di China
Harga Solar Mahal, Pemilik Mobil Diesel Mulai Hijrah ke Mobil Listrik
Mobil Murah Baru Seharga Rp87 Jutaan Meluncur, Saingi Agya dan Ayla
Mitsubishi Destinator Jadi SUV Keluarga Favorit, Kabin Belakang Tetap Nyaman
Mobil Listrik Baru Honda CR-X EV Siap Hadir, Perkuat Arah Elektrifikasi di Indonesia
Rupiah Melemah, Industri Otomotif Tak Akan Gegabah Naikkan Harga Mobil
Motor Matic Gredek dan Lemot? Bisa Jadi Kampas Ganda Sudah Tipis, Ini Tanda-Tandanya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 17:00 WIB

Pengguna Mobil Listrik Perlu Paham, Isi Daya di SPKLU Tak Harus 100 Persen

Senin, 1 Juni 2026 - 16:00 WIB

Toyota Masih Raja Otomotif Dunia, Tapi Mulai Tertekan di China

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:00 WIB

Bahaya Air Mineral untuk Radiator Mobil: Risiko Korosi, Sumbatan, hingga Overheat Mesin

Minggu, 31 Mei 2026 - 11:00 WIB

Harga Solar Mahal, Pemilik Mobil Diesel Mulai Hijrah ke Mobil Listrik

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:00 WIB

Mobil Murah Baru Seharga Rp87 Jutaan Meluncur, Saingi Agya dan Ayla

Berita Terbaru

(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Ekonomi

Rupiah Melemah, Kurs Jual Dollar AS di Bank Tembus Rp 18.010

Selasa, 2 Jun 2026 - 21:00 WIB