Jemarionline.com – Bank Indonesia (BI) bergerak agresif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang terus meningkat. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bank sentral menjalankan strategi “all out” untuk menahan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
BI bahkan melakukan intervensi langsung di empat pusat keuangan dunia, yakni Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan bank sentral dalam menjaga kestabilan pasar keuangan nasional di tengah tingginya tekanan eksternal.
Perry mengatakan intervensi yang dilakukan BI bukan langkah biasa. Menurutnya, BI mengerahkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.
“Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu bukan business as usual, itu all out,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta.
Rupiah Tertekan Akibat Faktor Global dan Musiman
Tekanan terhadap rupiah muncul akibat kombinasi faktor global dan domestik. Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga Amerika Serikat, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global membuat banyak mata uang negara berkembang ikut melemah.
Selain faktor eksternal, BI juga mencatat peningkatan kebutuhan dolar AS di dalam negeri pada kuartal II 2026. Permintaan valuta asing naik karena kebutuhan pembayaran dividen perusahaan, cicilan utang luar negeri, hingga kebutuhan musim haji dan umrah.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat melemah mendekati level Rp17.400 per dolar AS.
Meski begitu, BI memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Bank sentral optimistis tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan melalui kombinasi kebijakan moneter dan intervensi pasar.
BI Gunakan Cadangan Devisa untuk Stabilkan Pasar
Dalam menjaga stabilitas rupiah, BI memanfaatkan cadangan devisa sebagai alat utama intervensi pasar. Perry menyebut posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas nilai tukar.
Per Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai sekitar 148 miliar dolar AS. Angka tersebut memang turun dibanding bulan sebelumnya, tetapi BI menilai jumlah itu tetap memadai untuk menghadapi gejolak pasar global.
Perry menjelaskan BI mengumpulkan cadangan devisa ketika arus modal asing masuk ke Indonesia meningkat. Saat tekanan pasar muncul dan arus modal keluar membesar, BI menggunakan cadangan tersebut untuk menjaga kestabilan rupiah.
“Tolong diingat, cadangan devisa dikumpulkan saat panen inflow besar. Karena itu kami gunakan ketika tekanan outflow meningkat,” katanya.
Intervensi BI Berlangsung Selama 24 Jam
BI tidak hanya melakukan intervensi di pasar domestik. Bank sentral juga memperluas operasi ke pasar global agar pergerakan rupiah tetap terkendali selama 24 jam.
BI menjalankan intervensi melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Strategi tersebut memungkinkan BI menjaga stabilitas rupiah di berbagai zona waktu perdagangan internasional.
Langkah itu dinilai penting karena perdagangan mata uang berlangsung hampir tanpa henti di pusat-pusat keuangan dunia. Ketika pasar Asia tutup, transaksi berlanjut di Eropa dan Amerika Serikat.
Dengan masuk ke pasar global, BI berharap dapat meredam spekulasi sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
BI Jalankan Tujuh Strategi Stabilitas Rupiah
Selain intervensi langsung di pasar keuangan global, BI juga menyiapkan tujuh strategi utama untuk menjaga stabilitas rupiah.
Pertama, BI memperkuat intervensi di pasar valas domestik dan internasional melalui pasar spot, DNDF, dan NDF.
Kedua, BI mendorong masuknya modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Ketiga, BI melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar obligasi nasional.
Keempat, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas jasa keuangan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Kelima, BI menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan agar kebutuhan dolar tetap terkendali.
Keenam, BI melibatkan bank-bank domestik dalam transaksi NDF di luar negeri guna memperkuat pasokan valuta asing.
Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap pembelian valuta asing oleh bank dan korporasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
SRBI Jadi Senjata Menarik Modal Asing
BI juga mengandalkan instrumen SRBI untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia. Perry menyebut instrumen tersebut berhasil menahan tekanan outflow dari pasar saham dan obligasi.
Hingga awal Mei 2026, aliran dana asing yang masuk ke SRBI mencapai sekitar Rp78 triliun. Angka itu lebih besar dibanding arus keluar dari pasar saham dan Surat Berharga Negara.
BI menilai kondisi tersebut membantu menjaga keseimbangan pasar keuangan nasional di tengah gejolak global.
Selain itu, BI juga membeli SBN di pasar sekunder dengan nilai lebih dari Rp123 triliun untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik.
Pemerintah dan BI Perkuat Koordinasi
Pemerintah turut mendukung langkah BI menjaga stabilitas rupiah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah dan BI terus berkoordinasi menghadapi tekanan global.
Pemerintah juga menyiapkan strategi kerja sama swap mata uang dengan beberapa negara mitra seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Langkah tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.
Selain itu, pemerintah mulai memperluas penggunaan mata uang alternatif dalam penerbitan surat utang negara.
Airlangga menilai koordinasi pemerintah dan BI menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang belum mereda.
BI Optimistis Rupiah Tetap Stabil
Meski tekanan global masih tinggi, BI tetap optimistis nilai tukar rupiah dapat stabil dalam jangka menengah. Bank sentral menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak eksternal.
Pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap solid, inflasi yang terkendali, dan kondisi perbankan yang stabil menjadi modal utama Indonesia menjaga ketahanan ekonomi.
BI juga memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, sistem pembayaran, serta pendalaman pasar keuangan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Perry menegaskan BI akan terus bergerak aktif selama tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.
“Bank Indonesia all out menjaga rupiah dan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah,” tegasnya.









