Usai Beli Minyak Rusia, RI Mau Impor LPG? Ini Jawaban Bahlil Lahadalia

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden

Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden

Jemarionline.com – Pemerintah Indonesia mulai membuka peluang kerja sama energi yang lebih luas dengan Rusia. Setelah memastikan pembelian minyak mentah (crude oil), muncul pertanyaan baru: apakah Indonesia juga akan mengimpor LPG dari negara tersebut?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, akhirnya memberikan penjelasan langsung soal isu ini.

Indonesia Sudah Sepakat Impor Minyak Rusia

Pemerintah memastikan telah mencapai kesepakatan impor minyak mentah dari Rusia. Kesepakatan ini merupakan hasil pertemuan antara Presiden Indonesia dan Presiden Rusia dalam agenda kerja sama energi.

Indonesia akan menerima pasokan sekitar 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Pemerintah mengambil langkah ini untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah kondisi geopolitik global yang tidak stabil.

Bahlil menegaskan bahwa pasokan minyak tersebut akan segera masuk ke Indonesia.

“Untuk minyak mentah Rusia sebentar lagi masuk,” ujarnya.

Bagaimana dengan LPG? Masih Tahap Penjajakan

Meski sudah sepakat untuk minyak mentah, pemerintah belum mengambil keputusan final terkait impor LPG dari Rusia.

Bahlil menjelaskan bahwa peluang impor LPG memang ada, tetapi masih dalam tahap pembicaraan.

“Crude-nya yang sudah. Kalau LPG potensinya ada,” jelasnya.

Artinya, pemerintah belum memastikan apakah impor LPG akan benar-benar dilakukan dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Lonjakan BI Rate 100 Basis Poin Ancam Kredit Macet, Kelas Menengah Paling Rentan

Stok LPG Nasional Masih Aman

Salah satu alasan pemerintah belum terburu-buru mengimpor LPG dari Rusia adalah kondisi stok dalam negeri yang masih mencukupi.

Pemerintah memastikan pasokan LPG nasional tetap berada di atas batas minimum. Karena itu, keputusan impor LPG tidak menjadi prioritas mendesak saat ini.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah lebih fokus menjaga ketersediaan energi secara keseluruhan.

Fokus Utama: Jaga Ketahanan Energi

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, pemerintah memilih langkah realistis: memastikan semua kebutuhan energi tetap tersedia.

Bahlil menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah menjaga stok bahan bakar, mulai dari bensin hingga solar.

“Yang penting semua stok kita ada,” tegasnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bergantung pada satu sumber energi, tetapi juga berusaha melakukan diversifikasi pasokan.

Kenapa Rusia Jadi Mitra Energi?

Rusia menjadi salah satu alternatif pemasok energi karena memiliki kapasitas produksi besar, terutama untuk minyak mentah dan gas.

Di tengah konflik global dan gangguan pasokan dari beberapa wilayah, Indonesia mulai mencari sumber energi baru yang lebih stabil.

Kerja sama dengan Rusia juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi, sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan saja.

Baca Juga :  Indomaret Bagi-Bagi Diskon Gajian hingga 50 Persen, Berlaku Sampai 10 Juni

Kebutuhan LPG Indonesia Masih Tinggi

Di sisi lain, kebutuhan LPG nasional terus meningkat setiap tahun. Konsumsi LPG Indonesia mencapai jutaan ton per tahun, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan.

Akibatnya, Indonesia masih harus mengandalkan impor dalam jumlah besar.

Kondisi ini membuat pemerintah terus mencari alternatif pemasok, termasuk membuka peluang kerja sama dengan Rusia.

Transaksi Dilakukan Secara Bisnis

Bahlil juga menegaskan bahwa pembelian minyak dari Rusia dilakukan melalui skema business-to-business (B2B).

Artinya, transaksi berlangsung antara perusahaan, bukan langsung antar pemerintah.

“Itu B2B saja,” ujar Bahlil singkat.

Pemerintah tidak membeberkan detail harga maupun kontrak karena bersifat komersial.

Dampak ke Depan untuk Indonesia

Langkah Indonesia membeli minyak dari Rusia dan membuka peluang impor LPG menunjukkan perubahan strategi dalam sektor energi.

Pemerintah mulai:

  • Mencari sumber energi alternatif
  • Mengurangi ketergantungan pada satu negara
  • Menyesuaikan kebijakan dengan kondisi global

Jika kerja sama LPG benar-benar terealisasi, Indonesia bisa memiliki opsi pasokan yang lebih luas.

Namun, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak mengambil keputusan yang terburu-buru.

Berita Terkait

IHSG Tertekan Sesi Pertama Pasca Penghapusan Batas Harga Saham Minimum
Harga Cabai Rawit Sulut Menyentuh Rp 120.000, 2,5 Ton Cabai Didatangkan
Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel
Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026
Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 13:57 WIB

IHSG Tertekan Sesi Pertama Pasca Penghapusan Batas Harga Saham Minimum

Senin, 21 September 2026 - 08:09 WIB

Harga Cabai Rawit Sulut Menyentuh Rp 120.000, 2,5 Ton Cabai Didatangkan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Berita Terbaru