Jemarionline.com — Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama mengakui hasil kualifikasi Moto3 Spanyol 2026 belum sesuai target. Rider Honda Team Asia itu harus memulai balapan utama dari posisi ke-17 usai mengalami insiden di sesi Q2. Meski begitu, Veda tetap percaya diri menatap balapan dan memburu poin di Sirkuit Jerez.
Start dari baris tengah memang bukan posisi ideal.
Namun Veda melihat situasi itu sebagai tantangan.
Alih-alih larut dalam kekecewaan, pembalap muda asal Gunungkidul itu memilih fokus pada peluang yang masih terbuka.
Ia menilai balapan utama tetap memberi kesempatan untuk bangkit.
Karena itu, posisi start ke-17 tidak membuatnya kehilangan keyakinan.
Akui Lakukan Kesalahan di Kualifikasi
Veda tampil cukup menjanjikan pada sesi awal.
Ia lolos dari Q1 dengan performa yang kompetitif.
Catatan waktunya sempat menunjukkan potensi untuk bersaing di barisan lebih depan.
Namun situasi berubah di Q2.
Saat mencoba memperbaiki waktu lap, Veda mengambil risiko besar.
Upaya itu justru berakhir dengan highside di lap penentuan.
Insiden tersebut membuat peluang memperbaiki posisi start sirna.
Veda mengakui kesalahan itu secara terbuka.
Ia menyebut insiden tersebut bagian dari proses belajar di kelas Moto3.
Pengakuan itu menunjukkan kedewasaan pembalap muda yang terus berkembang.
Alih-alih mencari alasan, ia memilih menjadikan momen itu sebagai evaluasi.
Tetap Percaya Diri Hadapi Balapan
Meski memulai dari posisi ke-17, Veda tidak menurunkan target.
Ia tetap membidik poin.
Optimisme itu bukan tanpa alasan.
Sepanjang akhir pekan di Jerez, Veda menunjukkan kecepatan yang cukup kompetitif.
Selain itu, ia mengaku nyaman dengan setelan motor dalam kondisi kering maupun basah.
Faktor itu memberi modal penting untuk balapan.
Menurut Veda, start dari posisi belakang memang menuntut kerja lebih keras.
Namun balapan Moto3 sering menghadirkan peluang lewat duel ketat dan perubahan posisi cepat.
Karena itu, peluang tetap terbuka.
Ia ingin memanfaatkan setiap lap untuk merangsek ke depan.
Jerez Bukan Trek Asing untuk Veda
Sirkuit Jerez bukan tempat asing bagi Veda Ega Pratama.
Ia memiliki pengalaman positif di trek tersebut.
Faktor itu menambah kepercayaan dirinya.
Karakter sirkuit yang teknis dinilai cocok dengan gaya balapnya.
Selain itu, pengalaman sebelumnya memberi referensi penting untuk menyusun strategi.
Karena mengenal karakter lintasan, Veda percaya diri bisa tampil kompetitif.
Hal itu menjadi salah satu alasan ia tetap optimistis walau start dari grid ke-17.
Mental Bertarung Jadi Sorotan
Satu hal yang menarik dari respons Veda adalah mental bertarungnya.
Ia tidak terpaku pada hasil kualifikasi.
Sebaliknya, ia fokus pada peluang saat balapan.
Pendekatan itu penting di Moto3.
Karena kelas ini sering menghadirkan pertarungan rapat hingga lap terakhir.
Pembalap yang start di belakang tetap punya peluang finis di posisi bagus.
Karena itu, banyak pihak melihat Veda masih berpeluang mencuri poin.
Apalagi ia sudah menunjukkan kemampuan bertarung sepanjang musim.
Modal Bagus dari Awal Musim
Kepercayaan diri Veda juga lahir dari performa awal musim.
Ia sempat mencuri perhatian lewat hasil impresif di beberapa seri awal.
Bahkan ia pernah meraih podium bersejarah untuk Indonesia di Moto3 Brasil musim ini.
Capaian itu membuktikan Veda punya kecepatan untuk bersaing di level dunia.
Karena itu, satu hasil kualifikasi sulit tidak mengubah potensi besarnya.
Justru pengalaman seperti ini bisa memperkaya jam terbangnya.
Dan itu penting untuk perjalanan panjang musim 2026.
Fokus Rebut Poin di Balapan Utama
Target utama Veda tetap jelas.
Ia ingin finis di zona poin.
Untuk mencapai itu, start awal menjadi krusial.
Jika mampu naik posisi pada beberapa lap pembuka, peluang bertarung di grup tengah akan terbuka.
Selain kecepatan, strategi ban dan manajemen balapan juga berpotensi menentukan hasil.
Karena itu, tim Honda Team Asia menaruh perhatian besar pada persiapan race pace.
Veda juga menegaskan fokusnya bukan pada posisi start.
Fokus utamanya adalah bagaimana tampil efektif sepanjang balapan.
Insiden Jadi Pelajaran Berharga
Crash di Q2 memang merugikan.
Namun Veda memilih melihatnya sebagai pelajaran.
Sikap itu menunjukkan kematangan.
Pembalap muda biasanya mudah terpengaruh hasil buruk.
Tetapi Veda menunjukkan respons berbeda.
Ia langsung mengalihkan fokus ke race day.
Mental seperti itu menjadi modal penting untuk berkembang di Moto3.
Karena persaingan kelas ini tidak hanya menguji kecepatan.
Tetapi juga ketahanan mental.
Dukungan untuk Pembalap Indonesia
Penampilan Veda kembali menarik perhatian pecinta balap Indonesia.
Banyak yang berharap ia mampu bangkit saat race.
Start dari posisi ke-17 memang tidak mudah.
Namun justru situasi seperti ini sering melahirkan kejutan.
Jika mampu menembus grup depan lebih cepat, Veda berpeluang mencuri hasil positif.
Dukungan publik Indonesia juga menjadi energi tambahan.
Apalagi Veda terus membawa harapan besar bagi regenerasi balap nasional.
Peluang Bangkit Masih Terbuka
Moto3 terkenal sulit diprediksi.
Itu sebabnya peluang Veda tetap terbuka.
Start ke-17 memang bukan skenario ideal.
Namun balapan belum dimulai dari hasil kualifikasi.
Balapan ditentukan di lintasan.
Dan di sanalah Veda ingin menjawab tantangan.
Ia sudah jujur mengakui kesalahan di Q2.
Kini fokusnya satu.
Bangkit saat race.
Jika mampu memaksimalkan peluang, posisi start ke-17 justru bisa berubah menjadi cerita comeback yang menarik di Jerez.









