Jemarionline.com, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengungkap adanya tekanan baru terhadap industri media akibat maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), khususnya melalui aktivitas crawler atau bot.Ketua AMSI Wahyu Dhyatmika menyebutkan dalam setahun terakhir media menghadapi fenomena yang disebut sebagai double squeeze atau tekanan ganda.
Trafik Turun, Bot Meningkat
Salah satu dampak paling terasa adalah penurunan drastis jumlah pembaca. Banyak media kehilangan hampir setengah dari total page views sepanjang 2025.Di sisi lain, justru terjadi lonjakan trafik dari bot AI yang mengakses situs media untuk mengambil konten. Bot ini sering kali menyamar sebagai pengguna biasa, sehingga tetap membebani server dan meningkatkan biaya operasional.
Akibatnya, media harus menanggung biaya lebih besar, sementara pendapatan justru menurun.
Konten Diambil Tanpa Kompensasi
Masalah lain yang disoroti adalah praktik pengambilan konten jurnalistik oleh AI tanpa izin atau kerja sama resmi.Crawler AI digunakan untuk merekam dan melatih model AI menggunakan konten berita, namun tidak memberikan kompensasi kepada media sebagai pemilik konten.
Hal ini dinilai tidak adil karena media tetap harus membayar biaya produksi berita, mulai dari jurnalis hingga infrastruktur.
Fenomena “Zero Click” Perparah Situasi
Selain crawler, muncul juga fenomena zero click, di mana pengguna tidak lagi mengunjungi situs berita karena informasi sudah diringkas langsung oleh AI di mesin pencari.Dampaknya, trafik organik media turun signifikan, bahkan bisa mencapai lebih dari 50 persen.
Penurunan ini berimbas langsung pada pendapatan iklan yang selama ini menjadi sumber utama bisnis media.
Perlu Regulasi dan Model Bisnis Baru
AMSI menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Diperlukan regulasi yang melindungi konten jurnalistik, termasuk kemungkinan revisi aturan hak cipta dan penguatan hak penerbit (publisher rights).
Selain itu, media juga didorong untuk:
- Beralih ke model bisnis berbasis pembaca
- Memanfaatkan AI secara strategis
- Mengembangkan produk jurnalistik bernilai data









